Zainun's com

just believe your self n wait something happen

Assalamualaikum ei

Tugas Akhir Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

POLA KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI EFEKTIF SAAT BERKOMUNIKASI DENGAN MAHASISWA YANG MENGGUNAKAN TELEPON GENGGAM (HANDPHONE)

Dosen:             Ekawati Sri W.

Pudji Muljono

Martua Sihaloho

Murdianto

Asisten:           Lulu Hanifah

Oleh

MOH. zAINUN NASHORI ASHAR

I34110051

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

ABSTRAK

MOH. ZAINUN  Pola komunikasi antar pribadi efektif saat berkomunikasi dengan mahasiswa yang menggunakan telepon (handphone).

 

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi pola komunikasi antar pribadi efektif pada pelajar yang menggunakan tekonologi telepon genggam. Komunikasi memiliki peranan besar dalam kehidupan ini sebab sebagian besar kegiatan manusia dilakukan dengan komunikasi. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang digunakan dalam berkomunikasi. Seiring perkembangan zaman komunikasi dipermudah dengan adanya media komunikasi seperti telepon genggam. Pengguna telepon genggam banyak dari kalangan remaja, sebagai contohnya adalah mahasiswa. Mahasiswa sering menggunakan telepon genggam, karena keseringannya itu saat berkomunikasi antar pribadi akan menjadi kurang efektif. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa terlalu sibuk dengan telepon genggamnya. Dalam studi pustaka ini menjelaskan tentang perkembangan komunikasi antar pribadi mahasiswa beserta peran dari telepon genggam ini pada komunikasi antar pribadi. Kemudian dijelaskan pula dampak telepon genggam tersebut pasa komunikasi mahasiswa. Masalah tersebut dapat ditangani melalui proses komunikasi secara langasung pada mahasiswa dengan pola pengadaptasian komunikasinya. Metodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah studi pustaka.

 

Kata kunci: komunikasi antar pribadi, telepon genggam, mahasiswa, komunikasi langsung, pengadaptasian

ABSTRACT

 

MOH. ZAINUN effective interpersonal communication patterns when communicating with university students that using a telephone (mobile).

The purpose of this working paper is to identify the effective interpersonal communication patterns on university students that using mobile phone technology. Communication has a major role in this life because most of communication is done by human activity. In a row the times, communication facilitated by the communication media such as mobile phone. Mobile phone users a lot of from teenagers, for example are university students. University students often use mobile phone, because it is currently frequency of communicating between individuals would be less effective. That is because they are too busy with their mobile phone. In this literature study describes the development of personal communication between students and their role of this cell phone on interpersonal communication. Then identifies the impact of mobile communications pasa students. These problems can be addressed through the process of communication with students langasung on adapting communication patterns. The methodology of this working paper use literature study.   

Keywords: interpersonal communication, mobile phones, university students, direct communication, adaptation

 PRAKATA

 

 

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan makalah akhir Mata Kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah yang berjudul “Pola Komunikasi Antar Pribadi Efektif dalam Berkomunikasi dengan Mahasiswa yang Menggunakan Telepon Genggam (handphone)”. Laporan makalah akhir ini ditujukan untuk memenuhi syarat kelulusan MK Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Puji Mulyono, Bapak Ir. Martua Sihaloho, MSi, dan Bapak Ir. Murdianto, MSi sebagai dosen Mata Kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah (BMI) Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM), Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor serta Kak Lulu Hanifah sebagai asisten praktikum atas ilmu yang telah diberikan sehingga dapat menyelesaikan makalah akhir ini. Penulis juga menyampaikan hormat dan terima kasih kepada Orang tua serta keluarga tercinta yang senantiasa selalu berdoa dan melimpahkan kasih sayangnya untuk penulis. Penulis berharap semoga studi pustaka ini bermanfaat dan dapat dijadikan masukan sebagai informasi yang berguna bagi semua pihak. Amin.

 

Bogor, Mei 2012

Moh. Zainun Nashori Ashar

NIM. I34110051

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

            Salah satu kegiatan sehari-hari manusia adalah komunikasi. Komunikasi yang sering dipergunakan sebagian besar dilakukan dengan berbicara atau komunikasi dengan pesan verbal, namun seringkali juga menggunakan pesan non verbal. Komunikasi dengan pesan verbal penting dalam penggunaan saat komunikasi antar pribadi dengan orang lain. “Kemampuan menggunakan simbol verbal dianggap lebih penting daripada kemampuan dalam menggunakan simbol non verbal. Teori dan praktik baik secara lisan maupun tulisan dalam berbahasa telah dipelajari dihampiri semua tingkat pendidikan. Kemampuan non verbal mendapat sedikait perhatian di sebagian besar sekolah” (Purnaningsih 2010:155)[1].

            Komunikasi kini dipermudah dengan adanya teknologi telepon genggam. Teknologi ini memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain walaupun dari jarak yang jauh. Namun hal ini tanpa disadari dapat membuat komunikasi antarpribadi seseorang semakin kurang efektif, karena pada hakikatnya komunikasi antarpribadi dilakukan secara tatap muka.

“Teknologi komunikasi cenderung memungkinkan terjadinya tranformasi berskala luas dalam kehidupan manusia. Tranformasi tersebut telah memunculkan perubahan dalam berbagai pola hubungan antar manusia (patterns of human communication), yang pada hakikatnya adalah interaksi antar pribadi (interpersonal relations)” [Hassan (1999) dalam Utaminingsih (2006)].

Kurang efektifnya komunikasi tersebut disebabkan karena saat berkomunikasi dengan seseorang, fokus komunikasi berkurang akibat sibuk dengan telepon genggamnya. Sebagai contohnya banyak terjadi pada kalangan pelajar seperti mahasiswa. Mahasiswa sebagai sampel sebab dikalangan mahasiswa sudah banyak yang mempunyai dan sebagian besar kegiatan pada mahasiswa memerlukan telepon genggam.  Pada umumnya, saat mahasiswa sedang menggunakan telepon genggamnya maka seringkali perhatiannya hanya terpaku pada telepon genggam tersebut.

Simanjutak (2004) dalam Utaminingsih (2006) dalam tulisannya mengenai aspak sosial telepon seluler menyatakan paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan ponsel. Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakan ponsel tersebut. Kedua, terhadap interaksi-interaksi antar individu. Ketiga, terhadap pertemuan tatap muka. Keempat, terhadap suatu kelompok-kelompok atau organisasi. Selanjutnya yang kelima adalah terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaan-kelembagaan masyarakat.

Akibat dari telepon genggam tersebut akan mempengaruhi komunikasi antar pribadi dari mahasiswa  begitu besar. Namun besarnya pengaruh tersebut masih belum diketahui seberapa jauhnya. Jika mempengaruhi komunikasi antar pribadinya maka tentu saja terjadi perubahan pola dalam berkomunikasinya. Sehingga diperlukan pola komunikasi yang tepat dalam menyampaikan pesan verbalnya. Tujuan dari semua hal tersebut adalah untuk menganalisis pola komunikasi yang efektif dalam komunikasi antar pribadi pada mahasiswa yang sibuk dengan telepon genggamnya. Kemudian dapat juga menganalisis pengaruh yang terjadi pada mahasiswa tersebut akibat kebiasaannya dalam berkomunikasi sehingga dapat mengetahui pola komunikasi yang tepat dan efektifnya.

BAB II

Efektivitas Pola Komunikasi Antarpribadi saat berkomunikasi dengan Mahasiswa yang Menggunakan Telepon Genggam

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) sering dilakukan secara tatap muka (face to face) . Oleh karena itu, bahasa atau kata-kata merupakan sarana utamanya. Sekalipun demikian, penggunaan secara kombinasi dan sekaligus antara berbagai simbol-simbol lainnya, seperti gerakan tangan, ekspresi wajah dan sebagainya tentulah lebih positif karena dapat lebih mempertegas makna informasi dalam komunikasi yang sedang dilakukan.

Dalam berkomunikasi dengan orang lain diperlukan interaksi antara diri kita dan orang lain. Interaksi  tersebut dapat membuat komunikasi antar pribadinya pun efektif. Komunikasi antar pribadi  biasanya dilakukan dengan tatap muka, namun kini dapat dilakukan menggunakan media. Media yang biasa digunakan seperti telepon genggam, internet atau yang lainnya. Komunikasi ini biasa dilakukan oleh dua sampai tiga orang, jika lebih dari tiga maka akan dapat dikatakan sebagai komunikasi kelompok. Hubungan dalam komunikasi antar pribadi ini bersifat khusus atau pribadi saja. Contohnya hubungan antara sahabat, hubungan antara dosen dan mahasiswa, hubungan antara atasan dan bawahan dan lain-lain. “Komunikasi antarpribadi yang berlangsung secara tatapmuka, sebenarnya tidak hanya merupakan proses interaksi tetapi sekaligus transaksi, sebab setiap orang yang terlibat sama-sama mengirim dan menerima pesan (Tubbs, 1974). Proses ini berlangsung dinamis, sehingga komunikasi antarpribadi bisa menyebabkan hubungan yang semakin erat atau sebaliknya” Hadiyanto (2010: 217).

Keefektifan komunikasi terjadi karena saat komunikasi antar pribadi, sumber dan penerima saling interaksi dan juga langsung terjadi transaksi. Namun kini proses komunikasi ini semakin mengalami perubahan dengan adanya teknologi. Sebelum ada teknologi, komunikasi antar pribadi terjadi secara efektif karena komunikasi dilakukan tanpa ada hambatan komunikasi. Antara sumber dan penerima berkomunikasi secara efektif dan efisien. Setelah teknologi muncul, komunikasi antar pribadi menjadi kurang efektif sebab saat sedang berkomunikasi, fokus pembicaraan biasanya teralihkan akibat sibuk dengan menggunakan teknologi tersebut. Sebagai contoh sibuk bermain dengan laptopnya, atau sibuk dengan telepon genggamnya, ataupun sibuk dengan mendengarkan musik. Rumini dan Sundari H.S (2004) dalam Utaminingsih (2006), dimana masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa[2].

Hurlock (1980) dalam Utaminingsih (2006)  juga menambahkan definisi masa remaja dengan menggunakan ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya, yaitu : Masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai usia yang bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, dan yang terakhir yaitu masa remaja sebagai ambang masa dewasa[3].

Saat-saat remaja adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala yang ada dibenak pikirannya dengan mengeluarkan suatu perkataan. Remaja pada umumnya berkomunikasinya dengan berbicara atau menulis sesuatu. Remaja tersebut biasanya kalangan mahasiswa sebab saat mahasiswa banyak yang lebih berani untuk berbicara atau berkomentar. Dalam proses berkomunikasinya, komunikasi antar pribadi sering digunakan dengan pesan-pesan verbal. Dalam keseharian, kini orang lebih banyak menggunakan telepon genggam. Mahasiswa adalah salah satu remaja yang paling banyak menggunakan telepon genggam sebab tiap tahunnya pengguna telepon genggam terus bertambah persentasenya. “Pengguna ponsel remaja di Indonesia meningkat hampir empat kali lipat lebih dalam lima tahun terakhir. Survei Nielsen Company memperlihatkan, penetrasi ponsel di kalangan remaja usia 15-19 tahun pada 2005 hanya 18 persen, sedangkan saat ini mencapai 70 persen” (Suprapto 2011). Mahasiswa sebagian besar mempunyai telepon genggam sebab hal ini cukup dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya dan untuk menikmati fasilitas atau fiturnya.

Tabel 1. Jumlah Mahasiswa Berdasarkan Fasilitas yang Digunakan

Fasilitas Telepon Genggam

Frekuensi

Persentase (%)

SMS

39

12,7

Games

40

13

EMS

11

3,6

MMS

15

4,9

Reminder

38

12,4

Kamera

26

8,5

Internet

13

4,2

MP3/Radio

24

7,8

Alarm

38

12,4

Telepon

39

12,7

Video

22

7,2

Bluetooth

2

0,6

Jumlah

307

100

Namun penggunaan telepon genggam tersebut pada mahasiswa dirasa seperti kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan. Saat melakukan sesuatu hal pasti ada saja mahasiswa itu membawa atau bahkan memegang telepon genggam tersebut. Seperti telepon genggam tersebut tidak bisa lepas dari tangannya.

Peran telepon genggam tersebut berkaitan pada komunikasi antar pribadi mahasiswa. Contohnya saat dua orang mahasiswa berkomunikasi dan sudah menjelaskan panjang-lebar tapi ternyata teman yang sedang diajak berkomunikasi tersebut meminta mengulangi perkataan sebelumnya (kurang mendengarkan karena sedang sibuk bermain dengan telepon genggamnya), hal tersebut tentu tidak mengenakkan bagi teman yang sudah berbicara tersebut. Dari contoh hal tersebut dapat dijelaskan bahwa teknologi telepon genggam memiliki dampak negatif pada komunikasi antar pribadi mahasiswa. Komunikasi langsung (tatap muka) antar pribadi mahasiswa akan menyebabkan berkurangnya keahlian (kualitas) dan pengeluaran perkataannya (kuantitas) dari mahasiswa tersebut. Komunikasi langsung berpengaruh pada komunikasi seseorang untuk berbicara kepada orang lain. Biasanya seseorang yang komunikasi langsungnya baik maka orang  tersebut pasti cakap dalam berkomunikasi atau berbicara antar pribadi dengan orang lain maupun di khalayak ramai (depan publik).

Kini dengan adanya teknologi telepon genggam secara perlahan membuat komunikasi antar pribadi langsung sebagian mahasiswa menjadi kurang baik sehingga kemampuan berbicara atau berkomunikasinya pun kurang baik. Hal tersebut dikarenakan kurang adanya komunikasi antar pribadi yang terjadi antar mahasiswa tersebut ataupun juga karena terbiasa berkomunikasi dengan media komunikasi atau komunikasi tidak langsung sehingga menyebabkan susah dalam berbicara (kurang kemampuan berbicaranya). Selain berpengaruh pada kemampuan berbicaranya, hal tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi mentalnya. Jika mahasiswa yang terampil dalam berbicara maka saat berkomunikasi atau berbicara di depan publik ataupun antar pribadi dengan mahasiswa lain, tidak akan gugup karena bingung tidak tahu apa yang akan dikatakannya.

“Menurut Badwilan (2004), penggunaan ponsel dapat membawa dampak-dampak tertentu. Dampak-dampak tersebut dibagi pada aspek psikologis, sosial, keuangan dan kesehatan atau keselamatan jiwa seseorang. Tapi yang akan dijelaskan disini adalah aspek psikologis dan sosial (Badwilan, 2004):

  1. Aspek Psikologis

Banyaknya pesan melalui SMS yang berisikan ajakan-ajakan bersifat rasisme[4] dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contohnya yang marak ditemukan adalah pesan yang berisi pemboikotan[5] barang produksi Amerika. Selain itu juga terdapat peredaran pesan teks,gambar, maupun video yang bersifat pornografi. Mudahnya akses keluar-masuk pesan tersebut melalui ponsel membawa dampak negatif. Terutama untuk generasi muda sekarang ini.

  1. Aspek Sosial

Salah satu hal yang sering terjadi adalah tindakan seseorang yang membiarkan ponsel miliknya tetap dalam keadaan hidup atau aktif sehingga mengeluarkan bunyi yang nyaring. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi serta mengejutkan orang-orang disekitarnya. Seperti sedang rapat bisnis, di rumah sakit, sedang di tempat-tempat ibadah, dan lain-lain. selain itu pengggunaan ponsel sebagai media komunikasi tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari komunikasi secara langsung (tatap muka). Sering terjadi kesalah pahaman dalam pemaknaan pesan melalui komunikasi secara tidak langsung”. Utaminingsih (2006)

            Dampak-dampak yang dapat diperoleh khususnya pada komunikasi antar pribadi mahasiswa adalah seperti itu. Namun hal tersebut adalah sebagian dari dampak-dampak negatifnya. Selain memiliki dampak negatif, tentunya telepon genggam memiliki dampak positif juga pada komunikasi antar pribadi, seperti memudahkan dan mempercepat komunikasi antar pribadi yang jarak jauh. ‘Penggunaan ponsel sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi yang terbentuk kemudian “dipercepat” prosesnya melalui suara dan teks atau tulisan’ (Brotosiswoyo 2002 dalam Utaminingsih 2006).

            Oleh karena memiliki beberapa masalah akibat dampak negatif dari teknologi telepon genggam ini pada komunikasi antar pribadi mahasiswa, maka diperlukan suatu penanganan pada masalah-masalah tersebut. Masalah komunikasi ini hanya dapat diselesaikan dengan cara komunikasi pula tentunya, yaitu dengan cara menggunakan metode pola komunikasi secara langsung. Komunikasi secara langsung ini akan membuat mahasiswa untuk terbiasa berbicara atau berkomunikasi secara tatap muka. Komunikasi tatap muka ini  akan menjadi komunikasi efektif saat berkomunikasi dengan mahasiswa yang menggunakan telepon genggam sebab proses interaksi dan transaksi langsung terjadi. Terbiasanya komunikasi tatap muka ini maka mahasiswa tersebut semakin lama kemampuan berbahasa atau berbicaranya akan semakin terampil. Hal tersebut juga akan menambah mental percaya diri mahasiswa tersebut.

“Bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional , dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbale balik. Disini budyatna melihat bahwa dengan munculnya penggunaan ponsel mempengaruhi proses yang transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbale balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka” Budyatna (2005) dalam Utaminingsih.

            Dengan melakukan komunikasi secara langsung saja tidak cukup, namun diperlukan juga pola pengadaptasian dalam komunikasi secara langsung tersebut. Pengadaptasian dimaksudkan agar mahasiswa terbiasa untuk melakukan komunikasi secara langsung dengan menyingkirkan atau mengabaikan sejenak telepon genggamnya saat berkomunikasi antar pribadi dengan mahasiswa. Hal itu dilakukan agar komunikasi berjalan secara efektif dan efisien sebab saat berkomunikasi diusahakan untuk fokus pada pembicaraan yang sedang dibicarakan sehingga tidak terjadi permintaan untuk mengulang perkataan yang diucapkan.

Gea, Wulandari, dan Babari (2003) dalam Utaminingsih (2006) menggambarkan suatu komunikasi yang efektif apabila si penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa pesan yang diberikan benar-benar diterima secara tepat sebagaimana yang dimaksud adalah dengan mendapatkan umpan balik pesan tersebut. Umpan balik adalah proses yang memungkinkan seorang pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima atau tidak. Selain itu cara seseorang mendengarkan dan menanggapi lawan bicara juga sangatlah penting dalam berkomunikasi. Memberikan tanggapan penuh pemahaman dalam mendengarkan dapat menghindari kecenderungan kesalahpahaman komunikasi antara pihak terkait.

BAB IV

Kesimpulan

 

            Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan lepas dari kegiatan komunikasi. Sebagian besar semua kegiatan memerlukan komunikasi. Komunikasi yang diangggap lebih penting adalah komunikasi dengan pesan verbal yaitu komunikasi dengan mengeluarkan sebuah kata-kata atau perkataan. Terdapat komunikasi antar pribadi yang memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain baik tentang masalah umum ataupun pribadi. Komunikasi juga dipermudah dengan lahirnya beberapa media komunikasi contohnya telepon genggam, internet, dan lain-lain.

            Salah satu media komunikasi yang banyak digunakan adalah telepon genggam. Dengan telepon genggam kini setiap orang dapat melakukan banyak kegiatan komunikasi. Dari data diketahui bahwa remaja adalah pengguna telepon genggam paling banyak, salah satunya dari kalangan mahasiswa. Dengan munculnya teknologi ini memberikan suatu dampak. Salah satu dampaknya membuat fokus mahasiswa berkurang saat berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya sehingga komunikasi antar pribadi yang terjadi menjadi kurang efektif.

            Agar komunikasi antar pribadi mahasiswa dapat menjadi lebih efektif maka diperlukan suatu cara komunikasi. Komunikasi secara langsung merupakan suatu cara agar komunikasi menjadi efektif dan diperlukan pula adaptasi komunikasi saat berkomunikasi yaitu dengan mengabaikan sejenak telepon genggamnya saat berkomunikasi sehingga komunikasi yang terjadi akan lebih efektif tanpa terjadi permintaan untuk mengulang perkataannya yang telah diucapkan.

 


DAFTAR PUSTAKA

Hadiyanto. 2010. Komunikasi Antarpribadi. Dalam: Hubeis AVS, editor. Dasar-dasar komunikasi. Bogor [ID]: Sains KPM IPB Press. Hal. 217

Mulyandari. 2006. Sikap dan perilaku mahasiswa terhadap penggunaan ponsel. Skripsi. Fakultas Pertanian, IPB.

Purnaningsih N. 2010. Simbol non-verbal. Dalam: Hubeis AVS, editor. Dasar-dasar komunikasi. Bogor [ID]: Sains KPM IPB Press. Hal.155

Sugono D et al. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta [ID]: Gramedia. 1701 hal.

Suprapto H, Purborini. 2011. Remaja pengguna ponsel meningkat. VIVAnews.com (24 Mei 2012)

Utaminingsih IA. 2006. Pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi social remaja. Skripsi. Fakultas Pertanian, IPB.


[1] Purnaningsih N. 2010. Simbol non-verbal. Dalam: Hubeis AVS, editor. Dasar-dasar komunikasi. Bogor [ID]: Sains KPM IPB Press. Hal.155

[2] Utaminingsih IA. 2006. Pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi social remaja. Skripsi. Fakultas Pertanian, IPB.

[3] Ibid

[4] Rasisme: Perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda

[5] Pemboikotan: Proses, cara, pembuatan bersekongkol menolak untuk bekerja sama (berurusan dagang, berbicara, ikut serta, dsb)